Tahukah sobat travelers, tepat tanggal 1 Januari 2015 kemarin, PT KAI (Persero) resmi mencabut subsidi PSO (Public Service Obligation) terhadap penumpang kereta kelas ekonomi. Imbasnya kini sobat tidak lagi dapat membeli tiket kereta di harga Rp 50.000,- s/d Rp 60.000,- untuk kelas ekonomi. Semua disesuaikan dengan mekanisme pasar dan tarif kereta kelas ekonomi pun melejit naik. Tidak ada lagi tarif kereta “murah”.
Sebelumnya kebijakan ini sudah disosialisasikan lewat banner yang terpampang di stasiun-stasiun bahwa subsidi PSO akan dicabut. Rakyat yang sudah susah, di tengah harga kebutuhan pokok yang tinggi, upah buruh yang rendah, saat ini harus menghadapi kebijakan transportasi massal yang tidak murah lagi.
Pemerintah kita benar-benar sudah pemerintah liberal, menggilai sistem pasar, dan membiarkan penghidupan rakyat jelata terus dilanda kesulitan. Padahal pemerintah mencanangkan pembatasan kendaraan pribadi untuk penghematan BBM dan menurunkan tingkat kecelakaan lalu lintas, tetapi kenapa transportasi publik justru tarifnya mahal?
Sobat travelers, berikut tarif baru kereta api ekonomi per 1 Januari 2015 di Jawa yang sudah tidak lagi berpihak kepada rakyat, dilansir dari Viva.co.id 2 Desember 2014:
KA Logawa dari Rp50.000 menjadi Rp115.000
KA Kertajaya dari Rp50.000 menjadi Rp135.000,
KA Brantas dari Rp55.000 menjadi Rp135.000
KA Kahuripan dari Rp50.000 menjadi Rp125.000
KA Kutojaya Utara dari Rp40.000 menjadi Rp90.000
KA Bengawan dari Rp50.000 menjadi Rp110.000
KA Progo dari Rp50.000 menjadi Rp100.000
KA Pasundan dari Rp55.000 menjadi Rp130.000
KA Sritanjung dari Rp50.000 menjadi Rp110.000
KA GBMS dari Rp55.000 menjadi Rp140.000
KA Matarmaja dari Rp65.000 menjadi Rp150.000
KA Tawangjaya dari Rp45.000 menjadi Rp95.000
KA Serayu dari Rp35.000 menjadi Rp95.000
KA Kutojaya Selatan dari Rp35.000 menjadi Rp70.000
KA Tegal Arum dari Rp25.000 menjadi Rp55.000
KA Tawang Alun dari Rp30.000 menjadi Rp65.000
(Berlaku untuk 1 penumpang)
penumpang KA ekonomi
Gila sobat travelers, KA Tegal Arum, entah jurusan mana ini, paling murah saja Rp 55.000,-, itu pun dari harga semula Rp 25.000,-. Lihat selebihnya hampir rata-rata di atas harga Rp 100.000,-. Kita mungkin kelak hanya disuruh tahu halaman rumah dan kebun rumah saja. Kereta api sudah menjadi transportasi elit dan rakyat jelata dibiarkan naik mobil bak terbuka rombongan yang sangat berisiko.
Sobat travelers, kenapa kereta api ekonomi yang saat ini menjadi transportasi rakyat biasa, pendapatan pas-pasan, menjadi tarifnya naik dan subsidinya dicabut? Apa PT Kereta Api (Persero) terus merugi? Yuk, kita gali penyebabnya, sobat mungkin punya analisa atau pendapat berbeda.
Alasan yang disampaikan pencabutan subsidi PSO kereta api ekonomi jarak jauh dikarenakan kareta ini selalu tidak memenuhi target PSO. Misal, seharusnya kereta memuat 8 gerbong, hanya 6 gerbong, karena sepi penumpang, sehingga subsidi dialihkan untuk kereta jarak pendek seperti komuter. Tapi, benarkah? Bukannya kini setiap kita mau naik kereta api harus booking terlebih dahulu, jika beli hari H seringkali sudah kehabisan tempat duduk?
Sejatinya, pencabutan subsidi tidak terlepas dari skema liberalisasi sektor publik yang sudah disepakati baik di dalam perjanjian bilateral dan multilateral. Di tahun 2015 ini adalah babak dimulainya Masyarakat Ekonomi ASEAN (MEA), dimana kebijakan liberalisasi, menyerahkan sepenuhnya pada hukum pasar, akan semakin dikonkritkan. Indonesia juga menjadi target masterplan global, pangsa pasar terbaik korporasi-korporasi internasional, yang diimplementasikan dalam Masterplan Percepatan dan Perluasan Pembangunan Ekonomi Indonesia (MP3EI). Pasca ambruknya ekonomi Eropa karena diterjang krisis terus-menerus.
Di sektor perkereta-apian, langkah-langkah liberalisasi dimulai dari kenyataan kepemilikan saham oleh swasta, pembatasan jumlah penumpang, pemberangusan pedagang asongan kereta, dan kenaikan tiket kereta api yang kini juga dikenakan pada kereta kelas ekonomi. Dikarenakan aturan yang dipakai adalah sistem pasar, maka subsidi harus dicabut, dan harga ditentukan oleh tingkat permintaan dan penawaran. Siapa dia yang sunggup membeli dengan harga pasar, dialah yang punya hak naik kereta api. Sebaliknya, dia yang tidak sanggup membeli karena miskin, lebih baik naik gerobak. Begitulah kira-kira aturannya.
Jadi, performa korporasi akan lebih ditingkatkan, bukan perhitungan kemampuan ekonomi dan daya beli masyarakat. Inilah naluri bisnis mengeruk keuntungan, bukan melayani seluruh masyarakat terhadap hak memperoleh transportasi publik yang aman dan murah yang seharusnya jadi tanggung jawab negara sepenuhnya.
Semua naluri bisnis yang bersifat kapitalis akan sangat tidak menyukai bentuk-bentuk subsidi. Kebijakan ekonomi politik negara yang sudah bergantung pada korporasi dan sistem pasar yang wujudnya dapat dilihat dalam perjanjian program bilateral dan multilateral (MEA, MP3EI, dll) itulah penyebab dasar subsidi-subsidi dicabut termasuk PSO kereta api ekonomi.
Sobat travelers, alasan ‘sepi’ penumpang di hari-hari tertentu itu bukan alasan mendasar subsidi PSO dicabut karena kenyataan penumpang terus membludak jauh lebih besar. Faktanya justru terjadi ‘pembatasan’ penumpang. Sobat mungkin sering merasakan tidak dapat tiket kareta pada hari 1 sebelum keberangkatan. Apa itu dibilang ‘sepi’ penumpang?
Intinya, PT Kereta APi telah mewujud menjadi bisnis korporasi swasta (privatisasi), tidak akan sepakat terhadap bentuk subsidi, di sisi lain performa memang terus ditingkatkan, tapi bukan daya beli. Jadi, di antara sobat terutama yang banyak duit, pastinya sekarang ini lebih merasakan kenyamanan dan keamanan naik kereta api dibandingkan dahulu. Tak perlu mempersoalkan pencabutan subsidi. Itu wajar.
Akan tetapi, bagi sobat travelers yang pendapatannya pas-pasan, apalagi hidup semakin susah, pencabutan subsidi dan naiknya harga tiket kereta api ekonomi jelas masalah bagi sobat. Betulkan?

RSS